Senin, 02 Juli 2018

~ Bacalah ~

=========
~ Bacalah ~
=========
Mengapa ayat pertama yang turun ke muka dunia adalah perintah “bacalah!”?
Karena membaca bisa menyelamatkan hidupmu, Kawan.
Dunia tempat kita hidup didesain untuk menampar, meninju, menendang, menikam, dan menghancurkanmu setiap saat. Tentu saja, itu semua hanya ungkapan. Walau bagi beberapa orang, semua itu boleh jadi bermakna harfiah.
Kamu pikir dunia ini tempat bermanja ria, di mana semua hal akan berjalan sesuai harapanmu? Kamu keliru. Pernah, sedang, dan akan tiba masa di mana dunia dan segala peristiwa di dalamnya akan membuatmu terpuruk tak berdaya. Meringkuk sendiri di pojok ruangan. Tidak bisa bergerak. Seakan ada dinding-dinding yang membelenggumu.
Kamu merasa benci dengan segala sesuatu di sekitarmu. Sedih dan depresi dengan keadaanmu. Dan kamu tidak mengerti mengapa. Apalagi orang-orang yang berada di sekitarmu. Mereka hanya melihat luar, tidak peduli, dan berlalu menjalankan hidupnya masing-masing.
Saat itu terjadi, hanya ada satu aktivitas sederhana yang bisa menyelamatkanmu: membaca.
Ketika kecil, aku disuruh membaca supaya pintar dan mendapat rangking bagus di kelas. Namun, kepintaran sejatinya bukan hasil akhir, ia hanyalah setitik kecil dari proses membaca. Di balik itu, ada hasil akhir yang lebih dahsyat dari membaca, yaitu membuka titik-titik terang yang sebelumnya tertutup tirai kebencian, kedengkian, dan kebodohan kita. Titik terang itu akan membuka jalan baru, yang bila kita lalui, segala keterpurukan kita akan terangkat dengn sendirinya.
Maka itu, selalu sempatkan waktu untuk membaca.
Namun, pilihlah bacaanmu. Jangan memilih bacaan yang justru hanya membenarkan segala kebencian,kedengkian, kesedihan,dan prasangka yang melanda dirimu. Kemudian, dari situ, kamu membuat tulisan baru dan kamu sebarkan, supaya orang-orang yang membacanya bisa terseret dalam penyakit-penyakit hati itu. Sayangnya, ada orang-orang seperti itu. Kasta mereka sungguh berada di level terendah. Dunia ini sudah cukup rusak tanpa mereka menambahkan karat.
Kalau memang sayang dengan dirimu, pilihlah bacaan yang bisa meretas semua emosi negatifmu. Mencerahkanmu. Membelokkanmu dari kebuntuan. Kemudian, dari situ, lakukan yang kamu bisa untuk menyebarkan emosi positif yang baru saja melanda dirimu. Entah dengan dengan menulis, bekerja dengan giat dan tulus, membantu sekitarmu, atau kegiatan apa pun yang bermanfaat.
Dunia ini sudah tandus tanpa kamu ratapi kekeringannya. Namun, kamu selalu bisa memilih jadi sekuntum bunga mawar yang mengharumkan dirimu dan sekitarmu. Meski hanya sekuntum, orang-orang akan bersuka cita menyambut kehadirannya.
Mulailah semuanya dari membaca.
- Khalid -

~ Ulasan Buku “Tentang Kamu” ~

===========================
~ Ulasan Buku “Tentang Kamu” ~
===========================
Beberapa waktu lalu, aku liburan bersama teman kuliah ke Banyuwangi dan Malang. Mengunjungi objek-objek wisata terkenal, seperti Kawah Ijen, Baluran, dan Bromo.
Sebelum berangkat, aku meminta itinerary(rencana perjalanan) kepada temanku yang menggagas liburan ini. Di sana tertera bahwa keberangkatan kami dari Jakarta ke Banyuwangi menggunakan kereta api kelas ekonomi. Nanti juga akan ada perjalanan yang cukup lama dari Banyuwangi ke Malang menggunakan bus.
Intinya, sebagian besar waktu kami akan dihabiskan di jalan.
Bekaca dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, perjalanan jauh di kendaraan selalu memicu suntuk dan ‘mati gaya’. Untuk mengantisipasi hal tersebut, aku pun memutuskan membawa buku sebagai teman perjalanan.
Awalnya, bingung mau membawa buku apa. Namun adikku dengan sigap menawari buku setebal 500 halaman berjudul “Tentang Kamu”, karya Tere Liye. Buku tersebut awalnya direkomendasikan oleh murabbi liqo’ adikku kepadanya. Kemudian adikku membacanya dan, menurutnya, buku itu sangat bagus. Maka itu, sekarang dia merekomendasikannya padaku.
Tanpa pikir panjang, aku pun membawa buku itu. Dan ternyata, itu adalah salah satu keputusan terbaikku di bulan Februari ini. Bahkan tak berlebihan bila aku katakan bahwa hal terbaik tentang liburanku di Jawa Timur adalah buku “Tentang Kamu”.
***
Seberkesan apa “Tentang Kamu”?
Seperti biasa, aku sulit mengungkapkan buku-buku yang sukses memukau dan sangat menyentuh emosiku. Kepalaku langsung dipenuhi berbagai deskripsi abstrak yang berkeliaran bak kawanan serigala. Namun, aku akan mencoba merangkum testimoniku menjadi dua kata saja, yaitu “sangat inspiratif”.
“Tentang Kamu” adalah buku karya Tere Liye ke-empat yang ku baca. Dan, harus ku akui, ia adalah favoritku sejauh ini. Isinya merupakan kombinasi yang indah dan seimbang antara wawasan, intelektual, sejarah, religi, perkara hati, dan inspirasi.
Sebenarnya, benang merahnya cukup sederhana, kawan, yaitu tentang seorang pengacara muda bernama Zaman. Dia diminta atasannya untuk mengurus harta warisan seorang Indonesia bernama Sri Ningsih. Almarhum Sri Ningsih meninggal di usia 75 tahun dan dia meninggalkan harta warisan yang sangat besar. Namun, sayang, ahli warisnya tidak diketahui. Tugas Zaman adalah menemukan si ahli waris dan mengurus perkara warisnya secara hukum yang berlaku. Itu saja.
Sederhana, tetapi si penulis bisa menjabarkannya menjadi kisah yang sangat detail, berisi, dan menggugah. Tak ayal, perjalananku di atas kereta api Kertajaya yang memakan waktu belasan jam terasa tak terasa. Waktu seakan berhenti ketika aku meniti setiap kata yang tertulis di buku ini.
"Tentang Kamu" kerap ku baca di waktu-waktu senggang selama liburan. Dan baru selesai ketika aku duduk di atas pesawat yang membawaku pulang dari Malang ke Jakarta.
Ketika menutup “Tentang Kamu” dari sampul belakangnya, aku mendapati diriku membatin “Wow” pelan. Tubuhku terasa lebih hangat, ceria, dan bersemangat. Itu sensasi yang menyenangkan.
Kalau ada satu keluhanku tentang buku ini, mungkin penokohannya yang agak monoton. Namun itu tidak mengurangi pesan moral buku ini secuil pun.
“Tentang kamu” aku rekomendasikan kepada siapa pun yang ingin hari-harinya lebih ceria dan bermakna.
Bacalah dan kamu tidak akan menyesal.
- Khalid -

~ Khilafah ~

=========
~ Khilafah ~
=========
Dulu aku sangat menggemari cerita-cerita bertema fantasi. Entah itu cerita dari film, cerpen, komik,atau novel. Menurutku, dunia dalam cerita-cerita fantasi itu lebih keren dibanding dunia nyata. Tokoh-tokohnya lebih menarik, bijak, dan berakhlak lebih mulia; alur ceritanya lebih seru dan menengangkan; latar belakangnya lebih kaya dan bervariasi; lebih imajinatif; dan banyak plot twist/kejutan.
Salah satu dunia fantasi yang paling mempesonaku adalah dunia dalam cerita "One Piece". Menurutku, penokohan, alur, latar tempat, misteri, drama, dan kejutan-kejutan dalam cerita tersebut terasa sangat sempurna dan mempesona.
Saking terpesonanya diriku, aku pernah menulis buku setebal 300 hlaman berjudul Teori “One Piece” yang berisi tentang tebakan akhir cerita One Piece.
Mungkin di antaramu ada yang pernah membacanya, mungkin juga belum. Yang mana pun, tidak masalah. Akan aku jelaskan secara ringkas isinya. Dalam buku tersebut, aku menebak akan terjadi hal-hal berikut ini:
1. Munculnya “sang terpilih”, alias orang yang ditakdirkan akan menyatukan umat manusia di seluruh dunia
2. “Sang terpilih” akan mengungkapkan kebenaran tentang dunia
3. “Sang terpilih” akan memulai perang terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah. Musuhnya adalah penyembunyi kebenaran dan penyebar fitnah.
4. “Sang terpilih” akan memenangkan peperangan. Umat manusia di seluruh dunia akan bebas dari rezim kekejaman, lalu bersatu dalam kedamaian.
5. Cerita berakhir
Tebakan-tebakan itu aku buat berdasarkan riset yang cukup mendalam.
***
Nah, sekitar pertengahan tahun 2016, adikku membaca buku Teori “One Piece” dan dia sangat terkejut. Pasalnya, skenario akhir cerita dalam buku itu sangat mirip dengan skenario dalam Islam yang bernama “khilafah”.
"Khilafah"? Apa itu?
Terus terang, aku baru mendengarnya pertama kali waktu itu. Aku pun mencari tahu informasi tentangnya. Dan terkejut dibuatnya.
Apa itu khilafah, aku rasa kamu lebih tahu daripada aku. Aku anggap kamu lebih memahami islam daripada aku sendiri. Jadi, tidak akan aku ceritakan panjang lebar.
Namun, aku akan mencoba menceritakannya dari sudut pandang buku yang aku tulis tadi, yaitu sebagai berikut:
1. Islam kelak juga akan menurunkan sosok “sang terpilih” pada akhir zaman , yaitu Imam Mahdi dan Isa Al Masih
2. Mereka juga akan mengungkapkan kebenaran tentang dunia, tentang islam, kepada orang-orang yang salah paham dan masih tersesat
3. Mereka akan memimpin perang terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah, dengan musuh utama Dajjal ‘Al Masih’ si penyebar fitnah paling ulung
4. Perang akan dimenangkan oleh “sang terpilih” dan dunia akan bersatu di bawah bendera islam. Itulah “khilafah”
5. Kiamat
Kira-kira seperti itu sudut pandangku
Skenario itu adalah nurbuah dari nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan dalam hadits-hadits. Aku pribadi belum pernah membaca langsung dari sumbernya. Namun, banyak ulama telah meriwayatkan hal yang sama. Tentang 5 fase dalam Islam. Tentang khilafah. Tentang penyatuan umat islam. Semua versi kurang lebih sama.
Jujur, ketertarikanku akan dunia fantasi surut drastis begitu tahu tentang khilafah. Ternyata dunia kita memiliki naskah cerita yang mirip, bahkan lebih dahsyat dari cerita fiksi dan dunia fantasi mana pun. Dan bagian paling menarik dari semuanya adalah kita terlibat di dalamnya.
Nah, tidak bisa dipungkiri, kebetulan atau tidak, disadari atau tidak, tanda-tanda menuju khilafah semakin merebak.
Belakangan ini, semakin banyak berita-berita hoax dan mengarah pada fitnah, yang tujuannya memicu amarah dan memecah belah umat. Peperangan di timur juga tak kunjung mereda. Kemudian, ada aksi-aksi pemimpin dari negeri seberang yang mencoba memboikot umat Islam.
Namun di sisi lain, persatuan umat Islam juga semakin terasa. Di dalam negeri, ada rangkaian aksi bela islam 411, 212, hingga 112 yang bertujuan memperkuat benteng islam. Di negeri seberang ada juga aksi-aksi demo Islam yang menentang kebijakan sepihak penguasa.
Sedikit banyak terasa, ada pengerucutan menjadi dua kubu besar yang berlawanan. Tanda-tanda itu nyata.
Pertanyaannya adalah: bagaimana diri kita harus menyikapi semua itu?
Meminjam istilah dari flatearth101, menurutku langkah paling pertama dan paling penting adalah “membangkitkan kesadaran”. Kita harus menyadari bahwa khilafah akan terjadi dan kita SEMUA sedang terlibat di dalam proses menuju ke sana.
Langkah kedua adalah mengambil tindakan.
Dimulai dari yang paling utama, yaitu melindungi ketauhidan yang telah bersemayam di hati kita. Iringilah dengan amal kebaikan, tunaikan kewajiban, jauhi larangan, dan menyibukkan diri dengan aktivitas bermanfaat. Lakukan kegiatan yang sesuai dengan kekuatan dan kesanggupan kita di jalan islam.
Langkah ketiga adalah menoleransi perbedaan, terutama antar umat islam.
Muslim itu datang dari berbagai kalangan, baik dari masyrakat awam, ulama, tokoh politik, penegak hukum, pengusaha, dan banyak lagi. Variannya tak terbatas. Dan, boleh jadi, antara satu muslim dengan yang lain memiliki sudut pandang yang berbeda-beda dalam menyikapi peristiwa.
Nah, jangan sampai perbedaan-perbedaan itu membuatmu memihak pada yang satu dan membenci yang lainnya. Batasi kekaguman dan kebencianmu pada tokoh-tokoh tertentu. Limpahkan kekagumanmu terbesarmu hanya pada nabi Muhammad salallahu alaihi wasallam dan kesetiaanmu hanya pada Islam. Dengan menoleransi perbedaan, ketanangan hati kita akan terlindungi. Pun secara tidak langsung, kita juga telah berjasa dalam pembentukan khilafah.
Mungkin tidak semua orang bisa mendeteksi niat tulus dan tindakan-tindakan kita. Namun cukupkan malaikat sebagai pencatat dan Allah azza wa jalla sebagai penimbang. Insya Allah, kita akan tercatat sebagai pejuang Islam dan khilafah. Sebuah catatan yang semoga memudahkan jalan kita menuju surga kelak.
Demikian, selamat beraktivitas!
- Khalid –
*Aku bukan ustadz atau ulama. Cuma seseorang yang suka menulis. Jadi, kalau ada yang keliru atau meragukan, mohon dikoreksi atau didiskusikan di kolom komentar. Trims!
** bila dirasa bermanfaat. Silahkan share tulisan ini, tidak perlu izin

~ Temukan dan Rayakan Kesederhanaan ~

=====================================
~ Temukan dan Rayakan Kesederhanaan ~
=====================================
Masjid terdekat dari rumahku hanya berjarak sekitar 30-40 langkah dari rumah. Dekat sekali. Aku pun sering shalat di sana.
Sebenarnya ia bukan masjid favoritku. Ada masjid-masijid lainnya yang lebih aku sukai karena suasananya lebih cocok denganku. Namun, aku hampir selalu lebih memilih masjid dekat rumah karena, yah, alasan kedekatan. Itu saja. Meskipun, jujur saja, ada beberapa hal yang tak aku sukai dari masjid dekat rumah. Salah satunya adalah masalah ketiadaan timer iqomah.
Kamu tahu kan, sekarang sudah banyak masjid yang memakai timer iqomah, alias papan elektronik yang menampilkan hitung mundur antara waktu adzan dan waktu iqomah.
Timer iqomah merupakan salah satu topik diskusi yang sangat disukai bapakku. Beliau sering bercerita bahwa timer iqomah di tiap masjid berbeda-beda. Ada yang 10 menit, 8 menit, 5 menit, bahkan 15 menit. Tiap waktu shalat pun bisa berbeda-beda waktu hitung mundurnya. Semua itu diceritakan beliau dengan senyum lebar dan bersemangat.
Awalnya aku heran, kok bapak bisa bahagia sekali, ya? Padahal cuma membicarakan timer iqomah. Aku heran sekali, sampai kemudian, aku menemukan alasannya.
Mesjid dekat rumahku tidak memiliki timer iqomah atau pun jam digital. Maklum, masjid kampung. Mungkin karena keterbatasan dana. Dan awalnya itu bukan masalah bagiku.
Namun, ia menjadi masalah ketika aku mulai membiasakan shalat tahiyatul masjid dan/atau shalat rawatib qobliyah.
Aku biasanya datang ke masjid ketika ‘injury time’, alias dekat-dekat waktu iqomah. Nah, ketika sampai di masjid, aku selalu mengalami dilema kecil: apakah waktunya cukup untuk shalat sunnah atau tidak, ya?
Kalau aku shalat sunnah, nanti tahu-tahu iqomah saat aku baru satu rakaat.
Namun kalau tidak shalat, bisa jadi aku menyesal,karena ternyata waktu menuju iqomah masih panjang.
Seperti buah simalakama. Dan aku pun beberapa kali jadi 'korban'. Saat aku baru satu rakat shalat tahiyatul masjid, iqomah sudah dikumandangkan. Aku pun terpaksa mempercepat laju shalatku. Dan, seringkali, itu membuatku sedikit bad mood. Haha.
Namun, baru-baru ini, masjid dekat rumah telah memasang timer iqomah. Tadi siang, aku menuju masjid untuk shalat dzuhur dan aku mendapati timer iqomah menunjukkan waktu 17 detik. Itu berarti sudah pasti tidak akan sempat melaksanakan shalat Sunnah. Aku pun hanya berdiri di shaf menanti iqomah.
Sejak saat itu, dilema kecilku hilang. Tidak perlu menerka-nerka apakah waktu cukup untuk shalat sunnah atau tidak. Toleransiku adalah 3 menit. Kalau timer iqomah masih menunjukkan 3 menit, berarti cukup. Namun kalau sudah di bawah 2 menit, bisa dipastikan tidak cukup. Aku lebih cepat membuat keputusan. Tidak ada dilema kecil lagi.
Ini memang perkara remeh. Namun tak kupungkiri, aku merasakan kebahagiaan dari perubahan kecil itu. Dan aku pun jadi lebih mengerti kebahagiaan bapak ketika beliau bercerita tentang timer iqomah.
***
Kawan, aku rasa kisah kecilku ini adalah salah satu bukti keindahan islam.
Semakin dalam kamu menyelaminya, semakin mudah kamu temukan kebahagiaan dari hal-hal sederhana.
Kamu tahu kenapa banyak orang sedih, depresi, emosi, dan gundah gulana? Itu karena mereka mematok kebahagiaan pada level yang terlalu tinggi, seperti kekayaan, pasangan yang mapan dan rupawan, popularitas, jabatan, dan kekuasaan.
Aku ambil contoh diriku sendiri. Dulu aku mematok kebahagiaanku dari jumlah “like” yang aku dapat di fanpage facebook yang aku kelola. Semakin banyak “like”, semakin bahagia diriku. Teorinya seperti itu.
Namun, kenyataannya tidak. Aku justru selalu sedih melihat “like” yang ku dapat. Soalnya, banyak fanpage lain yang jumlah “like”-nya jauh lebih banyak. Dari ribuan, puluhan ribu, hingga ratusan ribu. Jumlah "like"-ku yang 'hanya' ratusan sama sekali tidak ada apa-apanya.
Pada akhirnya, patokan kebahagiaanku itu justru tidak kunjung membuatku bahagia. Ia tidak pernah mencapai ujungnya, seperti paradoks. Dan aku lelah dibuatnya.
Namun ketika aku mendalami islam, aku temukan hal-hal kecil seperti timer iqomah membuatku bahagia.
Wow. Siapa sangka, kawan?
Dan hal-hal seperti itu mungkin jumlahnya ada banyak sekali, bahkan tak terbatas. Pun mudah ditemui dalam keseharian. Yang perlu kita lakukan adalah merasakannya dengan hati dan menemukannya.
Mungkin ini bisa jadi nasehat buatku dan buatmu. Temukanlah kesederhanaan dalam hidup dan rayakanlah ia. Rengkuh kebahagiaan dari situ. Niscaya ketenangan hati akan menghampiri kita.
Semoga tulisan ini bermanfaat. Kalau ada yang melenceng atau meragukan, mohon dikoreksi atau didiskusikan di kolom komentar^^
- Khalid -

~ Merendah dalam Doa ~

===================
~ Merendah dalam Doa ~
===================
Lebih dari separuh surat Taha bercerita tentang kisah nabi Musa alaihi salam. Mulai dari ketika beliau ditunjuk oleh Allah azza wa jalla sebagai utusan-Nya, sampai kisahnya setelah menyeberangi laut Merah.
Saat ku baca, aku mendapati ada hal-hal yang sangat menarik tentang kisah nabi Musa alaihi salam. Dan hal itu sama sekali bukan tentang kehebatannya mengubah tongkat menjadi ular atau pun aksi membelah laut Merah. Hal yang aku maksud terjadi saat nabi Musa alaihi salam pertama kali disapa oleh Allah azza wa jalla.
Dikisahkan dalam tafsir Ibnu Katsir, nabi Musa alaihi salam pertama kali disapa oleh Allah di lembah suci Tuwa. Tanpa banyak berbasa-basi, Allah azza wa jalla langsung menyuruh nabi Musa alaihi salam untuk berbalik arah guna menemui Fir’aun dan mendakwahkan tauhid kepadanya.
Berbalik arah? Ya.
Diriwayatkan pada tafsir Ibnu Katsir, saat itu Musa sedang melarikan diri dari rezim Fir’aun bersama keluarganya. Aku belum membaca kisah detailnya mengapa saat itu Musa lari. Namun tak perlu berteori muluk untuk menebaknya. Kalau kamu sedang melarikan diri dari seseorang, pasti alasannya takut. Apalagi yang kita bicarakan ini Fir'aun, yang terkenal karena kekejiannya. Nabi Musa alaihi salam pastinya saat itu sedang takut dengan Fir’aun dan berniat menjauh darinya.
Alih-alih demikian, Allah azza wa jalla justru menyapa beliau dan menyuruhnya berbalik arah, demi mendakwahkan tauhid pada Fir’aun, menghadapi orang yang menjadi sumber rasa takut utamanya saat itu.
Menjadi sedikit pertanyaan bagi Musa: mengapa harus dia yang mendapat tugas itu di antara semua manusia yang hidup sezaman dengannya?
Dikisahkan dalam sebuah hadits, Allah menjawab, ”karena tidak ada manusia yang menunduk lebih rendah padamu”
Tanpa banyak tanya lagi, Musa menyanggupi perintah Allah azza wa jalla dan bergegas melaksanakannya. Namun, sebelum berbalik arah, Musa sempat berdoa :
“Ya, tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku agar mereka mengerti perkataanku.” – Surat Taha ayat 25-28
***
Demikian sepenggal kisah nabi Musa alaihi salam.
Ada bagian yang menggelitkku, yaitu alasan Allah azza wa jalla memilih Musa sebagai utusan-Nya. Allah berkata, “karena tidak ada manusia yang menunduk lebih rendah dari padamu.”
Menjadi pertanyaan bagiku, apa bukti Musa menunduk lebih rendah daripada manusia lainnya? Dan seperti apa sih definisi “menunduk lebih rendah” itu sendiri? Hal ini tidak dijelaskan dalam surat Taha. Namun, rupanya hal itu tersirat dari doa nabi Musa alaihi salam.
“lepaskanlah kekakuan lidahku agar mereka mengerti perkataanku”
Sedikit cerita dibalik doa ini. Ketika kecil, lidah Musa pernah terbakar oleh arang. Sejak saat itu, lidahnya cacat dan dia tidak bisa bicara dengan lancar, agak terbata-bata dan sulit dimengerti.
Kini Musa resmi menjadi utusan Allah azza wa jalla. Dia menjadi orang terdekat dari Sang Penguasa. Dan bukan sekedar penguasa kelompok atau negeri, kawan, melainkan penguasa semesta ini. Aku pikir, dengan posisi semewah itu, Musa bisa meminta banyak hal pada Allah azza wa jalla. Meminta hal-hal muluk yang bahkan tidak terpikirkan oleh manusia-manusia lainnya.
Namun, dari semua permintaan yang bisa dilayangkannya, ternyata Musa hanya meminta dilepaskan kekakuan lidahnya agar bisa dimengerti perkataannya. Beliau bahkan tidak meminta lidahnya disembuhkan seperti semula. Tidak, kawan. Padahal itu pastinya hal kecil bagi Allah azza wa jalla. Namun Musa tidak memintanya. Bicaranya dimengerti, itu juga sudah cukup.
Ini mengagumkan. Alih-alih posisi nabi Musa alaihi salam yang sangat dimuliakan, beliau hanya meminta hal paling sederhana. Dan sesuai kebutuhan dakwahnya saat itu.
Aku pun jadi memahami jawaban Allah azza wa jalla. Musa disebut “menunduk lebih rendah dari manusia mana pun” karena keinginannya yang sederhana dan sesuai kebutuhan. Maka itu, Allah azza wa jalla sudi memilihnya.
Mungkin bisa menjadi pelajaran bagi kita, bila ingin didekati Allah azza wa jalla, itu bisa dimulai dari doa kita. Sederhanakanlah doa kita dan sesuaikanlah dengan kebutuhan. Mungkin kita tidak akan dipilih sebagai nabi, tetapi boleh jadi Allah azza wa jalla akan sudi mendekati kita karena kesediaan kita untuk merendah dalam doa? Wallahualam.
Ini sangat mudah dan bisa dilakukan kapan pun di mana pun. Balasannya pun luar biasa. Patut kita coba dan pertahankan.
- Khalid -

~ Selalu Ingat Mati ~

================
~ Selalu Ingat Mati ~
================
Ini terjadi pukul 5 sore tadi, tetapi masih membuatku agak terguncang sampai sekarang.
Aku sedang menemani ibuku dan sahabatnya ke sebuah mall di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Ketika itu, kami sedang agak terburu-buru. Pasalnya, sahabat ibuku hendak mengejar pesawat terbang di bandara Halim. Aku diminta mengantarnya ke sana.
Kami telah selesai belanja dan bergegas menuju parkir basement di lantai B1, tempat mobil kami diparkir. Kami bermaksud menggunakan lift. Posisi kami saat itu ada di lantai G, sedang menunggu pintu lift membuka.
Satu menit berselang, pintu lift pun terbuka. Para pengunjung mall, termasuk kami bertiga, masuk berdesakan.
Aku masuk paling akhir, sebelum tiba-tiba terdengar ada bunyi “tiiit” nyaring agak panjang. Itu isyarat lift kelebihan beban. Aku pun secara naluriah mundur keluar dari lift. Pintu lift menutup, lalu lift bergerak ke bawah. Biarlah ibuku dan sahabatnya duluan ke basement. Aku belakangan saja.
Setelah menunggu satu menit, pintu lift kembali terbuka. Aku masuk ke sana, berdesakan dengan pengunjung mall yang hendak ke lantai bawah.
Ruang lift tidak begitu besar. Aku taksir, ia hanya berukuran 1,8 x 1,8 meter. Aku berdiri di pojok kiri belakang, bersama dengan sekitar 12 orang lainnya. Ada orang dewasa dan anak-anak. Ya, lift itu penuh sesak. Papan elektronik di atas pintu lift juga menegaskan hal itu. Soalnya, teks bergerak di sana menunjukkan kata ”full”, alias lift bermuatan penuh.
Aku merasakan lantai lift menekan sol sandalku ke atas. Ternyata lift ini naik ke atas terlebih dahulu, tepatnya ke lantai satu.
Seampainya di lantai satu, pintu lift tidak langsung terbuka.
Beberapa detik berlalu, pintu lift tidak kunjung terbuka, pun lift tetap diam saja, tidak bergerak naik atau pun turun.
Detik-detik terus bergulir dan pintu lift masih bergeming.
Wah, ini sih ada yang tidak beres. Aku mendengar penghuni lift lainnya juga mulai menggerutu pelan.
Hampir satu menit berlalu, kondisi tetap sama. "Ini saatnya menekan tombol darurat", batinku.
Seakan membaca pikiranku, seorang perempuan berjilbab yang berdiri di pojok kanan depan langsung menekan tombol bergambar lonceng di tembok lift. Interphone di atas tombol mengeluarkan suara laki-laki yang agak kresek-kresek.
“Ada yang bisa kami bantu?” tanyanya.
“Ya pak! Ini liftnya macet di lantai satu terus!”, jawab si perempuan berjilbab, dengan nada agak membentak. Aku merasakan getaran kepanikan dalam suaranya. Wajahnya tegang. Sebelas dua belas dengan wajahku saat itu.
Suara dari interphone balas menjawab, “itu lift yang di sebelah mana ya bu???”, dengan nada yang tidak kalah panik. Waduh, masa’ si petugas tidak tahu ini lift yang mana? Apa tidak terdeteksi dari ruang kontrolnya?
Penghuni lift mulai gelisah. Aku berusaha menenangkan diri. Namun otakku yang hiperaktif ternyata lebih memilih untuk mengingat kasus pembunuhan di Pulo Mas beberapa waktu silam. Masih ingat, kan? Dalam kasus itu, sekeluarga tewas karena disekap di kamar mandi tanpa ventilasi. Mereka kehabisan nafas.
Pemilihan waktu otakku tidak bisa lebih buruk dari ini.
Sekarang, kami bertiga belas berada di ruang lift berukuran 1,8 x 1,8 meter dengan langit-langit rendah. Pintu lift tidak kunjung terbuka. Suhu ruangan memanas. Pun persediaan oksigen terasa menipis.
Tiba-tiba muncul pertanyaan di benakku,”bagaimana kalau Allah berkehendak untuk mengunci pintu lift untuk seterusnya?”
Mendadak, suasana jadi horror bagiku. Aku jadi melupakan semuanya. Mulai dari apa yang akan aku lakukan sore ini, nanti malam, besok, bahkan mimpi jangka panjang yang ingin aku capai. Kalau pintu lift terkunci terus, boleh jadi ini saatnya bagiku. Tidak akan ada hari esok. Isi kepalaku pun seketika hanya dipenuhi istighfar dan doa supaya pintu lift lekas terbuka.
---
Hening. Diselingi gerutu pelan dari penghuni lift.
2 menit, yang terasa seperti setahun, telah berlalu. Suara kresek-kresek dari interphone tiba-tiba memecah keheningan.
“Ada anak-anak di sana!!?” tanya si suara laki-laki.
“Ada!!” jawab penghuni lift serentak.
Hening kembali. Diselingi gerutu pelan. Tiga menit berlalu. Aku benar-benar takut sekarang. Menurut seorang psikolog dari barat, ada lima tahap yang dilalui seseorang saat menghadapi kematian. Tahap pertama adalah “denial” alias penolakan. Pikiranku mulai masuk ke tahap tersebut. Aku tidak siap mati, kawan. Tidak sekarang.
Tiga setengah menit berlalu. Aku merasa udara semakin menipis dengan cepat. Bersamaan dengan itu, seorang penghuni lift berteriak ke arah interphone, “OKSIGEN NIH!!”
Hei, bung. Semua orang juga tahu oksigen sedang menipis. Namun bisakah tidak usah diteriakkan seperti itu? Itu sama sekali tidak membantu. Malah bikin tambah panik. Menyita banyak oksigen pula. Begitu gerutuku dalam hati.
Aku mencoba bernafas seirit mungkin, sembari tetap istighfar dan berdoa supaya pintu lift terbuka atau lift bergerak. Yang mana pun lah. Itu lebih baik daripada kegemingan yang menyakitkan ini.
lima menit berlalu. Aku sudah tidak bisa berpikir jernih.
Dan tiba-tiba… aku merasa badanku sedikit anjlok ke bawah.
Kawan, LIFTNYA BERGERAK TURUN!
Spontan aku berteriak “ALHAMDULILLAH!!” sekeras-kerasnya. Seumur hidup, belum pernah aku merasa sebahagia itu hanya karena lift bergerak turun. Penghuni lift lainnya pun mengekspresikan kelegaannya.
Lift akhirnya sampai di lantai B1, pintunya terbuka. Udara segar masuk. Aku menghirupnya dalam-dalam seakan belum pernah melakukannya 10 tahun terakhir. Aku bergegas keluar, lalu bergabung dengan ibuku dan sahabatnya yang telah menunggu.
Aku baru saja lolos dari petaka. Aku merasa lega, tetapi juga terguncang. Guncangan itu baru reda sekitar 3 jam kemudian.
***
Ini pengalaman ‘hampir mati’ kedua yang aku alami setelah hampir hanyut di sungai ketika kecil dulu. Meski menakutkan, ini adalah pelajaran berharga. Alam bawah sadarku lagi-lagi ditendang. Betapa aku masih banyak dosa dan belum siap menghadapi kematian. Itu terasa dari rasa takutku tadi.
Dan ini sekiranya juga jadi peringatan, bahwa kelak aku dan kamu pasti akan merasakan ‘hampir mati,’ yang benar-benar berujung pada mati. Selalu ingat mati, kawan, karena waktunya bisa saja hari ini. Pastikan bekalnya sudah siap, yaitu ketauhidan dan amal-amal kebaikan. Jangan sampai menyesal pada waktunya.
Nasihat ini adalah buatku dan buatmu.
- Khalid -

~ Kekuatan Pikiran ~

================
~ Kekuatan Pikiran ~
================
Pikiran adalah bagian tubuh paling fleksibel dari seorang manusia.
Jari tangan kanan kita mungkin akan selalu lima, mata kita selalu dua, hidung kita selalu satu, tinggi badan akan berhenti tumbuh, dan wajah kita pun akan begini-begini saja, sama seperti sekarang. Semua itu cenderung permanen. Tidak bisa diubah-ubah lagi. Memang sudah ketetapannya begitu.
Namun pikiran kita berbeda. Meski tidak kasat mata, ia adalah bagian tubuh yang paling dinamis, paling bisa kita atur sesukanya, dan punya sejuta cara untuk terus berubah dan berkembang. Tidak ada batasan di sana.
Maka itu, bila ada musibah menimpa, kesedihan melanda, kekecewaan menerpa, kenyataan tidak sesuai ekspektasi, dan keburukan-keburukan lainnya, pastikan kamu mengubah cara berpikirmu lebih dahulu. Prioritaskan ia. Sebagaimana firman Allah SWT:
“Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” - Ar Ra'd ayat 11
Mengubah keadaan meliputi mengubah pikiran kita lebih dahulu. Berikanlah ia sugesti-sugesti positif. Entah dengan membaca buku, menyibukkan diri, atau melakukan kegiatan-kegiatan bermanfaat lainnya. Dengan demikian, niscaya perubahan keadaan ke arah yang lebih baik akan mengikuti dengan sendirinya.
- Khalid -

~ Al-Quran dan Tulisan yang Baik ~

~ Al-Quran dan Tulisan yang Baik ~
Al Quran adalah rangkaian tulisan terbaik yang pernah ada. Pasalnya, ia memberikan ilmu yang benar dan menenangkan jiwa.
Maka itu, tulisan yang baik adalah yang memberi ilmu yang benar dan menenangkan jiwa.
Maka itu, menulislah dengan niat menebar dua hal tersebut. Insya Allah berpahala bagimu, bermanfaat bagi pembaca tulisanmu.

~ Guru yang tidak piawai, atau murid yang sombong? ~

=============================================
~ Guru yang tidak piawai, atau murid yang sombong? ~
=============================================
Pernahkah ikut majelis ilmu, tetapi kamu sulit mengerti apa yang disampaikan oleh si pengajar? Lalu kamu kesal karenanya? Aku pernah.
Beberapa tahun yang lalu, masjid dekat rumahku kerap memanggil seorang ustadz yang satu ini. Baik ketika Ramadhan maupun hari-hari biasa. Dia spesialis di bidang ilmu tafsir dan tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa). Sepertinya, beliau adalah favorit masjid ini. Soalnya dia punya jadwal tetap mingguan.
Sayangnya, aku tidak pernah menyukainya. Bukan karena tabiatnya menyebalkan. Bukan. Namun, karena aku tidak pernah mengerti isi ceramahnya.
Ceramah oleh ustadz lain biasanya lebih mudah aku serap. Namun, tidak untuk ustadz yang satu ini. Menurutku, dia bertutur kata terlalu cepat, sehingga maknanya sulit aku tangkap. Intonasinya juga kadang terlalu berapi-api, seakan sedang memarahi para hadirin. Dan aku sama sekali tidak suka itu.
Alih-alih mendapat ilmu, aku justru kesal padanya. Aku dengar dia lulusan S3 luar negeri, tetapi kok cara mengajarnya payah sekali? Paling hanya 5% dari ceramahnya yang bisa aku mengerti.
Yang lebih mengherankan, mengapa dia paling sering dipanggil ke masjid ini? Padahal banyak yang lebih baik. Aku pun semakin kesal, tetapi ku pendam saja. Soalnya, beliau adalah salah satu penceramah favorit bapakku.
Lalu, waktu pun bergulir. Aku belajar lebih banyak hal sejaknya.
Tahun lalu, aku diajak ke masjid oleh bapak untuk shalat maghrib. Bapak bersemangat karena ustadz-yang-aku-kesal-padanya itu akan memberikan ceramah. Ternyata beliau masih sering di undang ke masjid. Kalau tidak salah, waktu ceramahnya adalah ba’da maghrib. Aku pun menuruti ajakan bapak. Meski pernah kesal pada si ustadz, aku coba menetralkan perasaan. Niatku adalah menuntut ilmu.
Waktu itu, Si ustadz-yang-aku-kesal-padanya biasa berceramah dengan menggunakan notebook dan LCD projector. Metode yang cukup unik, karena di masjid ini cuma dia yang memakainya. Ada sih yang lebih unik. Namun lain kali saja ku ceritakan.
Singkat cerita, Si ustadz-yang-aku-kesal-padanya pun memulai ceramahnya.
Kawan, di luar dugaan, kali ini aku mengerti isi ceramahnya! kata-katanyasatu per satu masuk ke dalam kepalaku dengan lancar. Bahkan sebagian di antaranya menggetarkan hatiku. Membuat bulu kuduk berdiri. Kata-katanya seakan beresonansi dengan apa yang telah aku pelajari beberapa tahun terakhir.
Aku tertegun. Aku bisa mendapat pemahaman dari orang yang pernah aku kesali, aku sinisi, dan aku cela cara mengajarnya beberapa tahun lalu. Siapa sangka?
Dari sini, aku dapat sebuah pelajaran berharga. Saat aku merasa kesulitan menerima sebuah ilmu, aku malah congkak. Yang ku lakukan justru mencari kesalahan si pengajar. Mencela cara mengajarnya, bahkan gesturnya. Konyol sekali. Padahal, faktanya aku memang masih bodoh. Ilmuku belum sampai sana. Sesederhana itu.
Mungkin bisa menjadi nasehat bagimu. Jangan sampai egomu menghalangi naluri belajarmu. Senantiasa merendah dalam belajar. Kalau belum paham, mungkin usahamu yang perlu diperkeras.
- Khalid -

~Menanggapi Kebijakan Trump~

==========================
~Menanggapi Kebijakan Trump~
==========================
Isu yang sedang ‘panas’ saat ini adalah Trump dan kebijakan imigrasinya, yang menyulitkan umat Islam, baik pendatang dari tujuh negara, maupun umat Islam yang sudah menetap di Amerika. Sebagai muslim, kita tentunya turut prihatin dengan kondisi tersebut. Hidup sedang tidak mudah bagi mereka.
Lalu bagaimana kita harus menanggapinya? Geram, marah,emosi, benci?
Dr Aidh Al Qarni (2014, hal 39) dalam bukunya berjudul La Tahzan memaparkan,“Jangan meletakkan bola dunia di atas kepala!”
Beliau menulis, “beberapa orang merasa bahwa diri mereka terlibat dalam perang dunia, padahal mereka sedang berada di atas tempat tidur. Tatkala perang itu usai, yang mereka peroleh adalah luka di pencernaan mereka, tekanan darah tinggi, dan penyakit gula. Mereka merasa terlibat dengan semua peristiwa.”
Ya, kita seringkali marah dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Terutama bagi muslim, peristiwa yang menyulut pitam kita adalah ketika ada muslim di belahan dunia lain sedang tertindas. Di Rohingya, di Palestina, dan kini di Amerika.
Aku pikir, geram dan marah adalah reaksi yang wajar. Namun, bila berkepanjangan, kamu sendiri yang akan tersakiti.
Ketahuilah, kawan, BANYAK sekali peristiwa yang tidak sesuai dengan harapan kita. Dunia memang didesain seperti itu. Dan sebagian besar di antaranya tidak bisa kita ubah begitu saja dengan tangan kita.
Hei, apakah Baginda Rasulullah SAW mengubah kekacauan umat dalam semalam? Tidak. Separuh masa dakwahnya dihabiskan untuk menanamkan tauhid pada penduduk Mekkah. Hasilnya pun minimum. Insiden penyiksaan dan penghinaan di kota Thaif menjadi saksi hal tersebut. Bahwa orang selevel Baginda pun pernah sangat kesulitan untuk mengubah keadaan.
Bagaimana reaksi spontan beliau? Beliau memilih berprasangka baik. Meyakini diri dan Jibril bahwa keturunan penduduk Thaif akan berperilaku lebih baik dan sudi menerima tauhid.
Reaksi beliau bisa kita tiru. Kita mungkin tidak bisa mengubah keadaan, tetapi bisa mengubah hati kita lebih dulu. Itu jauh lebih mudah.
Kemarin atau dua hari yang lalu, salah satu surat kabar tersohor negeri ini menampilkan foto kerumunan pendemo yang menentang kebijakan Trump. Aku menyusuri foto itu dan mendapati salah seorang pendemo mengangkat spanduk bertuliskan, “Aku cinta perempuan muslim!!”.
Di foto yang lain, ada pendemo mengangkat kadus bertuliskan, “Aku tidak protes kok, aku cuma kesepian.”
Hei, spanduk-spanduk itu membuatku tertawa. Pun merasa lega. Meskipun situasi sedang tidak berpihak, ternyata mereka menanggapinya dengan semangat positif. Itu sedikit banyak tercermin dari spanduk-spanduk bernada humoris tersebut.
Semangat itu semestinya menular pada kita. Bahwa muslim di negeri paman Sam itu tidak berpangku tangan. Mereka pun berjuang. Kau harus tahu, muslim-muslim di Amerika adalah muslim-muslim bermental terkuat yang aku tahu. Itu terlihat dari beberapa tokoh syi’ar di Amerika seperti Nouman Ali Khan dan Yusha Evan. Dakwah mereka sangat menggebu-gebu, up to date, dan begitu menyentuh realitas. Bahkan aku bisa lebih dekat pada islam berkat mereka.
Maka, kembali lagi. Bila sulit ubah keadaan, ubahlah hatimu. Ganti amarahmu dengan kepercayaan. Kepercayaan bahwa saudara-saudara kita pun sedang berusaha mengubah keadaan. Tak lupa selipkan doa supaya situasi membaik. Itu akan lebih baik bagi hati kita.
- Khalid -

~ Identitas Penulis ~

================
~ Identitas Penulis ~
================
Aku terbiasa menulis dengan nama pena. Dan ketika tulisanku mulai dibaca dan disukai banyak orang, mereka mulai bertanya siapakah identitas di balik nama-nama penaku. Biasanya, aku hanya menjawab seadanya,tanpa menjelaskan panjang lebar tentang diriku.
Nah,sekarang giliranku bertanya : memangnya penting mengetahui identitasku??
Menurutku, identitas penulis itu tidak penting. Mungkin kamu tidak sepakat, tetapi aku punya alasan. Akan ku jelaskan.
***
~ Tulisan tak berpenulis ~
Aku telah membaca berbagai buku dan tulisan, dengan beragam genre dan gaya penulisan. Beberapa di antaranya sangat berkesan buatku. Mengapa mereka berkesan? Apakah karena ditulis oleh penulis kondang A atau penulis kondang B? Tidak, kawan. Alasan itu sama sekali tidak masuk akal. Mereka berkesan buatku karena aku memang menyukai tulisannya. Itu saja.
Hei, bahkan tulisan terbaik yang pernah aku baca tidak jelas siapa penulisnya.Tulisan yang aku maksud adalah Al-Quran. Ya, kita tahu buku tersebut merupakan kumpulan dari firman Allah SWT. Namun, aku akan mencoba memposisikan diri sebagai orang tak beragama yang baru pertama kali melihat Al-Quran. Aku ambil sebuah Al-Quran, lalu aku amati cover-nya baik-baik.
Ada yang janggal di sana : buku tersebut tidak mencantumkan nama penulis.
Hei, ini serius? bagaimana mungkin aku bisa percaya isi buku ini kalau nama penulisnya saja tidak ada? Jawabanku adalah : aku tidak butuh itu.
Aku ingat betul, kalimat pertama Al-Quran yang masuk ke relung hatiku adalah surat Al-Baqarah ayat 216 yang berbunyi :
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”
Aku tidak tahu siapa yang menulisnya. Pun tidak peduli. Namun yang kudapati ketika membaca ayat tersebut adalah betapa solid kebenaran yang disampaikannya. Ya, ketika lebih muda, aku memang membenci BANYAK hal yang terjadi dalam hidupku. Tak bisa kusebutkan satu per satu. Namun, seiring waktu, aku sadari bahwa semuanya membawa kebaikan. Dan ayat tersebut membenarkannya.
Penulisnya siapa, aku tak peduli. Itu tidak relevan. Yang aku tahu, tulisan itu baik bagiku dan itu cukup. Dan tampaknya, Sang penulis menyadari hal itu. Maka itu, Dia tidak mencantumkan namanya di cover.
~ Kerahasiaan identitas adalah pelindung ~
Aku mencoba meniru prinsip menulis Sang penulis Al-Quran, yaitu menulis tanpa membeberkan identitas. Bukan, bukan karena aku ingin menyamai-Nya. Namun supaya aku bisa melindungi diriku dan orang yang membaca tulisanku.
Melindungi diri?
Ya, melindungi diri. Dulu aku pernah membeberkan identitas asli dari nama penaku kepada beberapa teman-temanku. Aku menyesalinya. Pasalnya, sejak saat itu, orang-orang jadi menyanjungku berlebihan. Aku jadi sombong. Mabuk pujian. Merasa di atas segalanya. Aku jadi kehilangan ketulusan dalam menulis.
Itu semua membunuhku. Aku pun berhenti membeberkan identitasku supaya bisa merebut kembali ketulusanku dalam menulis. Tak apa tak dikenal, itu harga yang sepadan.
Tujuan kedua adalah melindungi orang yang membaca tulisanku.
Ya, kamu yang sering membaca tulisanku, jangan terlena. Satu-satunya yang menghubungkan diriku dan dirimu saat ini adalah tulisanku. Maka kekagumanmu adalah pada tulisanku, bukan kepadaku. Keduanya adalah hal berbeda.
Mengagumi butuh energi. Maka simpanlah untuk orang-orang yang pantas mendapatkannya, seperti nabi Muhammad SAW. Mengagumi beliau tidak akan menyita energimu, tetapi menambahnya.
Demikian. Jika tulisan ini bermanfaat bagimu, itu cukup bagiku, pun bagimu.
- Khalid -

~ Keajaiban Ramadhan ~

====================
~ Keajaiban Ramadhan ~
====================
Aku tipe orang yang biasa berpikir dengan logika. Cara berpikir seperti itu diiringi oleh kelebihan maupun kekurangan.Berlogika memang sangat berguna untuk memecahkan masalah-masalah yang eksak, seperti matematika. Berlogika juga berguna saat aku butuh ide-ide untuk tulisan di fanpage yang satu lagi, di mana berlogika dan menganalisis adalah hal-hal yang paling esensial.
Namun, saat sedang berlogika, apalagi dengan kekuatan penuh, biasanya ada hal lain yang terabaikan. Contohnya, berpikir dengan hati. Padahal, seiring usia, aku mendapati bahwa hal-hal terbaik dalam hidup ini sering kali tidak bisa dimengerti dengan logika, tetapi dengan pemahaman hati. Dan salah satu hal tersebut adalah bulan Ramadhan.
Sudah puluhan tahun aku merasakan Ramadhan. Ketika lebih muda, aku selalu bersemangat menyambut kedatangannya. Bukan karena ia bulan suci dan penuh berkah, melainkan makanan yang buatku semangat. Ya, Ramadhan identik dengan berbuka puasa dan sahur. Dan biasanya, meja makan rumah kami bakal terisi oleh puluhan varian makanan untuk dua aktivitas tersebut, yang rasanya enak-enak, yang tak akan segan-segan kusantap dengan lahap. Maka itu, bulan Ramadhan identik dengan bulan makanan bagiku. Maka, tak heran, massa badanku malah naik di bulan ini. Lucu juga, ya.
Namun, Ramadhan terbaik yang ku rasakan-- tepatnya ramadhan tahun 2016—justru sama sekali tidak dipicu oleh makanan. Saat itu, aku tergerak untuk mencoba memperlakukan Ramadhan sesuai premis awalnya, yaitu bulan penuh ibadah dan berkah. Bulan di mana segala pahala dari tiap amalan dilipatgandakan dengan tingkat pengembalian yang tinggi.
Aku coba perkhusyuk shalat, perbanyak mengaji, mendengar kajian ustadz-ustadz ternama dari youtube, bahkan menambah hapalan surat Juz Amma --sesuatu yang tidak pernah kulakukan lebih dari 15 tahun terakhir.
Dan ternyata, rasanya luar biasa.
Aku merasa, aliran waktu tiba-tiba melambat hanya untukku. Hanya untukku. Aku tidak merasa kesepian, padahal tidak banyak orang di sekitarku. Aku selalu merasa sejuk, padahal angin tidak bertiup. Pun aku selalu merasa spesial, padahal tidak ada insan yang menyanjungku. Semua gelenyar kenikmatan itu kurasakan begitu saja, tanpa bisa logikaku menjelaskannya.
Sensasi tersebut memuncak ketika memasuki 10 malam terakhir. Telah kudengar dari berbagai ulama, 10 malam terakhir identik dengan I’tikaf, atau berdiam diri di masjid. Tidak beraktivitas apa pun kecuali ibadah. Selama ini, aku menganggap I’tikaf sebagai akivitas islami level ‘tinggi’, alias hanya diperuntukkan bagi para sufi bersurban tebal dan berjenggot abu-abu yang panjangnya menjuntai sampai ke dada.
Namun, aku penasaran, apakah I’tikaf memang sesuai anggapanku yang sempit itu? Maka, aku pun memutuskan untuk mencobanya bersama dengan keluargaku di masjid dekat rumah.
Jawaban yang aku dapat melebih ekspektasiku. Jika Ramadhan hari biasa, waktu terasa melambat. Maka saat I’tikaf, waktu terasa berhenti. Dalam arti sebenarnya. Tidak ada kecemasan masa depan atau kesedihan masa lalu. Yang ada adalah momen saat itu. Dan itu mencukupiku lebih dari apapun.
Aku harus jujur padamu, kawan. Selama belasan tahun, aku menyimpan dendam terhadap seseorang yang sangat dekat denganku. Dendam ini mendekam kuat di hatiku seperti parasit. Dan, seringkali, ia meledak di berbagai momen. Hal itu kerap membuatku gelisah, emosi, sulit berpikir jernih, dan sulit berkonsentrasi.
Namun, secara ajaib, dendam itu reda seiring gerakan shalat malamku di kala I’tikaf. Belasan tahun dendamku diredakan dalam waktu 10 malam. Bahkan, selepas Ramadhan, dendam itu tidak pernah kembali. Aku pun lebih ringan menjalani hidup.
Lagi-lagi, logikaku tidak bisa menjelaskannya. Namun, dari sini, aku mengerti satu hal : Baik I’tikaf maupun Ramadhan tidak diciptakan untuk orang-orang berlevel sufi belaka. Ia tercipta eksklusif hanya untukku. Kenikmatannya, kesejukkannya, dan keajaibannya, semua hanya untukku.
Apakah Ramadhan untukmu juga? Aku rasa itu hanya bisa dibuktikan bila kamu membuka hati dan memperlakukan Ramadhan sesuai dengan premis awalnya. Beberapa bulan lagi kita menyambutnya. Semoga masih diberi kesempatan untuk membuktikannya.
- Khalid -

~ Anugerah Guru “Killer” ~

===================
~ Anugerah Guru “Killer” ~
===================
Guru “Killer” adalah julukan yang biasa disematkan kepada guru, dosen, pengajar, widyaswara, atau profesi transfer ilmu lainnya yang punya tabiat sebagai berikut : galak, dingin, perfeksionis, banyak aturan, pemarah, cerewet, dan sering memberikan tugas
Menurut pengamatanku, guru “Killer” biasanya kurang disukai murid. Pasalnya, mereka kerap membuat suasana kelas kurang rileks. Jadi tegang. Apalagi kalau si guru sudah mulai marah-marah. Duh, tak enak.
Namun demikian, guru “Killer” juga biasanya paling tenar, paling dihormati, paling disegani, dan paling sering diperbincangkan. Itu menurut pengamatanku
***
Aku pribadi punya pendapat tentang guru “Killer”.
Guru “Killer” itu nikmat dan anugerah. Ya, alih-alih tabiat mereka yang terkesan berkonotasi negatif, guru “Killer” seringkali lebih sukses melakukan transfer ilmu ketimbang guru-guru non-“killer”. Ini setidaknya telah aku rasakan.
Ketika masih SD, aku disekolahkan di Taman Pendidikan Al-Quran di sebuah Mesjid dekat komplek rumahku. Ketika itu, aku sudah lulus Iqro’dan mulai mengaji langsung dari Al-Quran. Guru ngajiku adalah seseorang berusia 40-an tahun, kulit agak hitam, berjenggot tipis, dan berwajah tirus. Aku lupa namanya. Namun, yang tak pernah ku lupa, dia adalah salah satu guru paling “killer” yang pernah aku kenal.
Beliau memiliki cara mengajar yang cukup khas, yang aku namai “tajwid perfection”.
Jadi, setiap kali beliau meminta muridnya untuk membaca suatu ayat Al-Quran, tajwidnya sama sekali TIDAK BOLEH keliru. Sama sekali.
Kalau keliru, beliau akan memarahi si murid, lalu si murid harus membaca ulang lagi ayatnya dari awal.
Keliru lagi, ulang dari awal lagi. Keliru lagi, ulang dari awal lagi. Begitu terus sampai bacaan satu ayat benar-benar sempurna tajwidnya. Nyaris tidak ada toleransi. Bahkan kurang panjang satu harakat saja dianggap kekeliruan fatal yang pantas dikenakan sanksi pidana. Iya, sampai sebegitunya.
Kalau yang dibaca surat-surat Juz Amma sih tidak masalah. Namun kalau yang dibaca surat Al-Baqarah, yang panjang satu ayatnya bisa setengah halaman, wah, satu ayat bisa nggak kelar-kelar tuh.
Aku sempat stress berat saat pertama kali diajar beliau. Namun, seiring waktu, aku merasa penguasaan tajwidku membaik secara drastis. Tajwidku membaik sampai, suatu saat, aku bisa dengan mudah membaca satu ayat tanpa tajwidnya keliru sedikit pun. Dari situlah aku sadar, semuanya bisa terjadi berkat cara ajar si guru ngaji “killer”.
Aku tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Semoga Allah memberkahinya dimana pun berada.
***
Anugerah guru “Killer” juga kurasakan ketika tahun pertama kuliah.
Kali ini, si guru ahli di bidang Bahasa Indonesia. Beliau sudah sepuh. Sifatnya juga agak paranoid, alias kurang percaya orang. Selagi mengajar, intonasi beliau kerap tinggi, marah-marah, seakan-akan para murid yang diajarnya baru melakukan tindak kriminal dan pantas dijatuhi hukuman 10 tahun penjara.
Namun, beliau juga banyak mengajar ilmu-ilmu paling dasar dari Bahasa Indonesia, seperti pemakaian Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan; anjuran menggunakan kata “namun” di awal kalimat, bukan “tetapi”; dan larangan memakai lebih dari satu kata penghubung dalam satu kalimat untuk efisiensi .
Mungkin ilmu-ilmu tersebut terkesan remeh. Namun, setelah kupraktekkan sendiri untuk menulis, ternyata tulisanku jadi memiliki nilai lebih. Aku mendapat beberapa komentar bahwa tulisanku mudah dibaca dan mengena. Dari situlah, lagi-lagi aku sadar, itu bisa terjadi berkat si guru “killer”.
Aku tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Semoga Allah memberkahinya dimana pun berada.
***
Kesimpulanku, guru “killer itu anugerah selama kita bisa mengambil sesuatu dibalik cara mengajarnya yang ‘mematikan’.
Di balik tabiatnya, ada ketulusan, yang bila kita rasa, akan mempermudah terjadinya transfer ilmu. Ilmu yang kelak bisa bermanfaat untuk orang lain.
Bagaimana denganmu? Apa kamu juga punya pengalaman berkesan dengn guru “killer”? Silahkan share di komen 
- Khalid -